Archive for March, 2007

Terbangnya Burung

Saturday, March 3rd, 2007

terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari makna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali

Maut

Saturday, March 3rd, 2007

maut dilahirkan waktu fajar
ia hidup dari mata air;
itu sebabnya ia tak pernah
mengungkapkan seluk beluk karat
yang telah mengajarinya bertarung
melawan hidup; ia juga takkan mau
menjawab teka-teki senjakala
yang telah menahbiskannya
menjadi penjaga gerbang itu

maut mencintai fajar
dan mata air, dengan tulus

Yang Fana Adalah Waktu

Saturday, March 3rd, 2007

Yang fana adalah waktu. Kita abadi :
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa,

"Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu. kita abadi

Tuan

Saturday, March 3rd, 2007

Tuan Tuhan , bukan ? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar

Pada Suatu Pagi Hari

Saturday, March 3rd, 2007

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi
itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa
berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang
bertanya kenapa

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis  lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan
rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi

Tulisan Di Batu Nisan

Saturday, March 3rd, 2007

tolong tebarkan atasku bayang-bayang hidup yang lindap
kalau kau berziarah ke mari
tak tahan rasanya terkubur, megap
di bawah terik si matahari

Dalam Sakit

Saturday, March 3rd, 2007

waktu lonceng berbunyi
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka

di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi