Tuhan Tidak Sama Dengan Manusia

Tentu saja !

Semua orang sepakat bahwa Tuhan tidak menempati waktu. Dia sudah eksis bahkan “sebelum” waktu itu diciptakan. Dia bahkan akan tetap ada “sesudah” keberadaan waktu itu sendiri berakhir. “Sebelum” dan “sesudah” di sini bukan sebagaimana normalnya kita mempersepsikannya, karena – sekali lagi – Tuhan tidak menempati waktu. (Untuk omong-omong selanjutnya , saya hilangkan saja tanda kutipnya. Hemat energi. J)

Berarti….

Sebelum alam semesta yang sangat dahsyat ini ada, sebelum waktu, ruang dan hukum-hukum yang mengelolanya berwujud, hanya ada Dia. Tidak ada yang lain. Hanya Dia.

Sementara ini yang ada dalam pengetahuan manusia (terutama konco-konconya Stephen Hawking) adalah keadaan awal alam semesta yang belum berkembang, yang mempunyai kerapatan energi yang luarbiasa, dengan suhu dan tekanan yang sungguh-sungguh dahsyat, yang diasuh oleh hukum-hukum fisika kuantum. Sebelum itu ? Tidak terdefinisikan oleh hukum fisika.

Lalu muncul pertanyaan. Kalau begitu dari bahan apa alam semesta dan seluruh isinya ini dibuat ? Kalau bahasa pabriknya, raw materialnya apa ?

Logika sederhana –sekemampuan Dhemit ini– adalah bahannya tidak lain dari zat-Nya sendiri. Lha wong tidak ada apa-apa selain Dia. Tidak ada kemungkinan lainnya. Untuk mempersingkat penjelasan, berarti alam semesta beserta segala isi dan hukum pengelolanya hakikatnya adalah bagian dari eksistensi-Nya. Alam semesta, ruang, dan waktu. Makanya kaum beragama tidak bisa tidak akan dengan takzim menyatakan Tuhan Maha Besar !

Manusia. Sebagai butiran debu di tengah alam raya ini, ternyata dititipi sebagian sifat-Nya. Tidak semua. Dan lagi sifat tersebut juga disesuaikan dengan fitrah kemanusiaan yang dimilikinya.

Tuhan Maha Melihat. Manusia bisa melihat. Penglihatan manusiawi sangat-sangat terbatas. Manusia memerlukan alat indra berupa mata untuk melihat. Bagaimana dengan Tuhan ? Manusia butuh cahaya, gelombang elektromagnetis , dengan lebar frekuensi yang sangat terbatas bila dibandingkan dengan semesta frekuensi gelombang elektromagnetis alam raya. Cuma cahaya tampak saja , yang seingat saya adalah spektrum mejikuhibiniu. Itu juga cahayanya harus punya intensitas tertentu. Terlalu gelap, tidak kelihatan. Terlalu terang, silau maaaannnn……! Secara fisika , yang di-indra oleh mata itu sebenarnya adalah pantulan cahaya dari objek yang dilihat. Kalau pantulannya terhalang oleh objek lain yang tidak tembus cahaya, tidak kelihatan dong. Cakrawala pandang manusia juga terbatas, buktinya sampeyan tidak bisa menikmati pemandangan “githok” anda sendiri.

Begitu banyak keterbatasan yang bila dibandingkan dengan penglihatan dalam aras Ketuhanan, bisa dibilang penglihatan kita tidak berarti apa-apa.

Meskipun demikian, terlalu banyak juga kenikmatan yang bisa disumbang oleh kemampuan melihat manusia – yang hampir tidak berarti itu. Silakan sampeyan daftari sendiri kemewahan apa yang bisa diraih dengan kemampuan melihat itu. Pak Blekok bisa hidup dari keahlian fotografi – yang utamanya bermodalkan penglihatannya. Pak Adi Sus bisa menikmati Eva Green. Saya bisa bengong tiap pagi memandangi muka Haidar.

Sifat-sifat yang lain bisa kita absen sendiri satu per satu. Manusia mendengar. Manusia berbicara. Manusia hidup. And so on and so forth. Pikirkan sendiri keterbatasannya. Pikirkan sendiri manfaatnya.

Giliran begini, Bro Jackey cuman tinggal nimpali, “Maka nikmat TuhanMu yang mana lagi yang akan kau dustakan?”

Kemudian…..

Tuhan juga menitipkan kemampuan untuk berkehendak sesuai dengan sifat-Nya. Apakah kehendak manusia – yang akrab bertaburkan keterbatasan sesuai kodrat kemanusiannya–dan kehendak Tuhan –yang sangat absolut– jauh berbeda sifat, jangkauan liputannya, wawasan, dan tak lupa potensi untuk “kelakon”nya?

Tentu saja !

J

Leave a Reply