Archive for January, 2007

Kompetensi (Mana Yang Berguna)

Tuesday, January 30th, 2007

(didapat dari Prof. Augusty)

Penjualan bulan lalu merosot !

Sebuah mimpi buruk yang menjelma nyata dan mengerikan bagi sang Sales Supervisor permen KOPIKU.  Target yang dipatok dari pusat bagaikan berada di awang-awang bila dibandingkan dengan hasil penjualan yang berhasil dilakukan oleh tim-nya. Terbayang jelas di matanya, roman muka dingin sang manajer cabang . Dia harus melaporkan hasil buruk ini.

Tapi.

Laporan kegagalan ini harus disertai dengan rencana aksi. Setidaknya dia bisa melapor ke boss bahwa sesuatu akan dilaksanakan untuk mencegah berulangnya aib ini di wilayahnya.

Maka dikumpulkannya seluruh anggota tim penjualannya. Bersama-sama mereka harus mencari tahu apa penyebab kegagalan mereka dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya terulang kembali.

Maka pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah “Apa yang menyebabkan kita gagal ?”

“Bulan lalu ada kompetitor baru masuk ke pasar, Pak.” , salah seorang salesnya mulai angkat bicara.

“Ya, Pak. Mereka membandrol produk mereka dengan harga lebih miring.” Yang lainnya menambahkan.

OK. Masuk akal juga.

“Promosi kompetitor-kompetitor kita lebih menarik. Mereka menawarkan undian dalam tiap kemasan tertentu produk mereka”. Satu lagi tambahan.

“Kemarin ada pemilik warung yang bercerita, bahwa sekarang orang lebih suka membeli permen yang rasa semriwing. Yang menyukai rasa kopi sudah mulai berpindah seleranya.”

OK.

Ada

lagi ?

“Sekarang konsumen kita sebagian besar adalah anak-anak. Namun menurut saya, kemasan kita kurang nge-jreng di mata mereka.”

“Sekarang sedang musim batuk, Pak. Banyak anak-anak yang dilarang orang tua mereka makan permen.”

“Mutu produk kita kalah bersaing. Kalau di-emut cepat sekali habis. Kurang awet.”

Wah….wah…wah…banyak juga ya.

Maka sang supervisor membuat tabel di whiteboard untuk membantu menata pikiran semua anggota tim.

Sebab penurunan sales

Ada

kompetitor

Harga terlalu mahal

Promosi kurang

Selera konsumen berubah

Kemasan kurang menarik

Pengaruh musim

Mutu produk inferior

Nah.

“Rekan-rekan sekalian, mari coba kita lihat satu persatu penyebab penurunan penjualan kita. Yang pertama, adanya kompetitor yang memasuki pasar kita.

Masuk akal.

Logis.

Sekarang kalau kompetitor ini merupakan penyebab kegagalan kita, mari kita adakan kegiatan untuk melenyapkan kompetitor ini. Bagaimana caranya ?”

Sepi.

Tidak ada yang bersuara.

Bagaimana mau membuat kompetitor itu hilang ? Wong mereka itu punya perusahaan sendiri, mereka bentuk jalur pemasaran sendiri. Memangnya tidak boleh ada kompetitor?

Tidak ada kelanjutannya. Tidak ada yang bisa diperbuat oleh tim itu untuk menghilangkan kompetitor mereka.

“Kalau demikian, akan saya beri tanda X di kolom sebelah kanannya. Ini menyatakan bahwa penyebab itu tidak bisa kita atasi sediri.”

“OK. Berikutnya, harga kita kemahalan. Benar juga. Harga yang lebih mahal kalau dibandingkan dengan kompetitor sejenis bakal menggerus pangsa pasar kita. Jadi solusinya adalah menurunkan harga.

Apakah teman-teman semua sepakat kalau mulai besok, permen KOPIKU kita jual dengan harga yang dipotong 50% dari harga yang ditentukan dari pusat? Setuju?”

Sepi lagi

Tidak ada yang berani menyatakan persetujuan.

Apa jadinya kalau tim mereka menjual permen di bawah harga yang ditentukan ? Bagaimana mungkin mereka bisa mempertanggungjawabkannya?

Maka sekali lagi, “Tanda di sebelah kanannya berarti X ya.” Kata sang supervisor.

Terus dan terus….

Satu per satu tim itu membahas hal-hal yang sudah mereka masukkan ke tabel.

Dan hasilnya adalah ,

Sebab penurunan sales

Ada

kompetitor

X

Harga terlalu mahal

X

Promosi kurang

X

Selera konsumen berubah

X

Kemasan kurang menarik

X

Pengaruh musim

X

Mutu produk inferior

X

“Bagaimana ini ? Semuanya bertanda X. Semua penyebab kegagalan penjualan kita tidak bisa kita atasi sendiri. Semua jerih payah kita berkumpul ini cuma menghasilkan sekumpulan saran yang akan kita ajukan ke manajemen perusahaan, bagian QC, bagian engineering. Tidak adakah yang bisa kita lakukan ?”

…………………………………………………..

Sekarang ini jamannya orang menyebut-nyebut kata kompetensi. Menurut teori yang beredar sekarang ini, semuanya berawal dari kompetensi. Bahkan sekarang kurikulum pun berbasis kompetensi – whatever that is. Saya tidak sedang berniat menjabarkan kompetensi itu apa. Rasanya semua orang sudah memiliki pengertian masing-masing tentang kompetensi.

Menganalisa masalah dan mencari jalan keluar darinya, juga harus berlandaskan kompetensi. Artinya, masalahnya harus dilihat dari sudut pandang kompetensi kita. Lihat saja contoh di ats. Brainstorming tim penjualan di atas berhasil mengidentifikasi banyak penyebab masalah –yang sayangnya semua berada di luar kompetensi mereka sebagai tim. Maka sama sekali tidak dilahirkan suatu keputusan  dari tukar pikiran mereka. Paling banter, mereka hanya akan membicarakan pekerjaan orang lain—dari yang serius sampai tingkatan “ngrasani”—yang berujung cuma kepada setumpuk saran. Sekumpulan saran hasil inventarisasi mereka pun belum tentu akan segera melahirkan solusi karena berkaitan dengan pihak lain yang berkompeten terhadap hal tersebut.

Keputusan. Keputusan bisa diambil manakala kita berhasil melihat permasalahan dari lingkup kompetensi kita. Keputusan-yang-diambil-dan-ditindaklanjutilah yang sebenarnya memberikan “nilai” atas keberadaan kita. Menyibukkan diri dengan hal-hal di luar kompetensi kita tidak akan membawa kita ke kontribusi nyata atas pemecahan masalah.

Memperbincangkan masalah di dalam lingkup kompetensi kita, itulah yang sebenarnya dinamakan “berdiskusi”.

Sementara ngomong panjang lebar di luar kompetensi kita, boleh disebut “menggosip”.

Maka, seberapa banyak waktu yang kita pakai untuk benar-benar mencari solusi? Seberapa banyak waktu yang kita pakai untuk mengumpulkan saran supaya bisa dilakukan orang lain sementara kita berada di pihak yang pasif?

Percayalah, kalau anda lebih banyak berperan sebagai pemberi saran, tanpa pernah benar-benar membuat keputusan, hidup tidak akan terasa lengkap.

Syahdan,

Tim penjualan tadi akhirnya berhasil mengidentifikasi kesalahan fokus rayonisasi dalam strategi penjualan mereka. Sebelumnya, mereka memusatkan perhatian di area di mana kompetitor sedang gencar-gencarnya memberi diskon dan promosi dan melupakan wilayah yang belum tersentuh kompetitor mereka. Maka mereka menyibukkan diri berdiskusi mengenai pembagian wilayah dan membuat keputusan rayon-rayon mana yang akan mereka “serang” tiap periodenya. Semua keluar dari tempat pertemuan dengan rasa puas karena tahu apa yang harus mereka kerjakan selanjutnya.

Tuhan Tidak Sama Dengan Manusia

Tuesday, January 2nd, 2007

Tentu saja !

Semua orang sepakat bahwa Tuhan tidak menempati waktu. Dia sudah eksis bahkan “sebelum” waktu itu diciptakan. Dia bahkan akan tetap ada “sesudah” keberadaan waktu itu sendiri berakhir. “Sebelum” dan “sesudah” di sini bukan sebagaimana normalnya kita mempersepsikannya, karena – sekali lagi – Tuhan tidak menempati waktu. (Untuk omong-omong selanjutnya , saya hilangkan saja tanda kutipnya. Hemat energi. J)

Berarti….

Sebelum alam semesta yang sangat dahsyat ini ada, sebelum waktu, ruang dan hukum-hukum yang mengelolanya berwujud, hanya ada Dia. Tidak ada yang lain. Hanya Dia.

Sementara ini yang ada dalam pengetahuan manusia (terutama konco-konconya Stephen Hawking) adalah keadaan awal alam semesta yang belum berkembang, yang mempunyai kerapatan energi yang luarbiasa, dengan suhu dan tekanan yang sungguh-sungguh dahsyat, yang diasuh oleh hukum-hukum fisika kuantum. Sebelum itu ? Tidak terdefinisikan oleh hukum fisika.

Lalu muncul pertanyaan. Kalau begitu dari bahan apa alam semesta dan seluruh isinya ini dibuat ? Kalau bahasa pabriknya, raw materialnya apa ?

Logika sederhana –sekemampuan Dhemit ini– adalah bahannya tidak lain dari zat-Nya sendiri. Lha wong tidak ada apa-apa selain Dia. Tidak ada kemungkinan lainnya. Untuk mempersingkat penjelasan, berarti alam semesta beserta segala isi dan hukum pengelolanya hakikatnya adalah bagian dari eksistensi-Nya. Alam semesta, ruang, dan waktu. Makanya kaum beragama tidak bisa tidak akan dengan takzim menyatakan Tuhan Maha Besar !

Manusia. Sebagai butiran debu di tengah alam raya ini, ternyata dititipi sebagian sifat-Nya. Tidak semua. Dan lagi sifat tersebut juga disesuaikan dengan fitrah kemanusiaan yang dimilikinya.

Tuhan Maha Melihat. Manusia bisa melihat. Penglihatan manusiawi sangat-sangat terbatas. Manusia memerlukan alat indra berupa mata untuk melihat. Bagaimana dengan Tuhan ? Manusia butuh cahaya, gelombang elektromagnetis , dengan lebar frekuensi yang sangat terbatas bila dibandingkan dengan semesta frekuensi gelombang elektromagnetis alam raya. Cuma cahaya tampak saja , yang seingat saya adalah spektrum mejikuhibiniu. Itu juga cahayanya harus punya intensitas tertentu. Terlalu gelap, tidak kelihatan. Terlalu terang, silau maaaannnn……! Secara fisika , yang di-indra oleh mata itu sebenarnya adalah pantulan cahaya dari objek yang dilihat. Kalau pantulannya terhalang oleh objek lain yang tidak tembus cahaya, tidak kelihatan dong. Cakrawala pandang manusia juga terbatas, buktinya sampeyan tidak bisa menikmati pemandangan “githok” anda sendiri.

Begitu banyak keterbatasan yang bila dibandingkan dengan penglihatan dalam aras Ketuhanan, bisa dibilang penglihatan kita tidak berarti apa-apa.

Meskipun demikian, terlalu banyak juga kenikmatan yang bisa disumbang oleh kemampuan melihat manusia – yang hampir tidak berarti itu. Silakan sampeyan daftari sendiri kemewahan apa yang bisa diraih dengan kemampuan melihat itu. Pak Blekok bisa hidup dari keahlian fotografi – yang utamanya bermodalkan penglihatannya. Pak Adi Sus bisa menikmati Eva Green. Saya bisa bengong tiap pagi memandangi muka Haidar.

Sifat-sifat yang lain bisa kita absen sendiri satu per satu. Manusia mendengar. Manusia berbicara. Manusia hidup. And so on and so forth. Pikirkan sendiri keterbatasannya. Pikirkan sendiri manfaatnya.

Giliran begini, Bro Jackey cuman tinggal nimpali, “Maka nikmat TuhanMu yang mana lagi yang akan kau dustakan?”

Kemudian…..

Tuhan juga menitipkan kemampuan untuk berkehendak sesuai dengan sifat-Nya. Apakah kehendak manusia – yang akrab bertaburkan keterbatasan sesuai kodrat kemanusiannya–dan kehendak Tuhan –yang sangat absolut– jauh berbeda sifat, jangkauan liputannya, wawasan, dan tak lupa potensi untuk “kelakon”nya?

Tentu saja !

J