Amplop dan Suratnya
Thursday, December 7th, 2006(inspired by Quraish Shihab)
Syariat dan Hakikat bisa disederhanakan seperti kalau kita mau berkirim surat kepadaNya.
Syariat itu seperti amplop dan segala uba-rampenya.
Kalau pingin surat kita sampai ke alamat tujuan, maka beberapa hal teknis harus kita penuhi.
Alamat tujuan harus ditulis jelas, kalau tidak dipastikan bakal nyasar entah ke mana.
Apalagi kalau nekat ndak nulis alamat sama sekali. Belum sempat dikirim juga sudah masuk tempat sampah di kantor pos.
Perangko. Jangan lupa menempelkan perangko, harganya juga harus sesuai dengan alamat tujuan dan seberapa cepat kita ingin surat kita sampai.
Jangan sekali-kali memberanikan diri mengirim surat tanpa perangko. Buang-buang waktu saja. Waktu kita, waktunya pak pos.
Peraturan tentang amplop sudah ditetapkan dan harus dipatuhi kalau memang kita ingin berkirim surat
Hakikat adalah isi suratnya.
Yang dibuka sesudah amplopnya sampai ke tangan-Nya.
Yang akan dibaca-Nya
Yang kita persembahkan , kita rengek-rengekkan, kita harap-harap-cemaskan.
Masih berpikir untuk mengirim surat dengan amplop yang lengkap tapi tanpa isi surat ?
Bagaimana kira-kira kalau isi suratnya ternyata bukan untuk Dia ?
Atau kira-kira bagaimana kalau isinya tidak lebih dari carut-marut pelecehan kita atas cinta-Nya?