Archive for December, 2006

Amplop dan Suratnya

Thursday, December 7th, 2006

(inspired by Quraish Shihab)

Syariat dan Hakikat bisa disederhanakan seperti kalau kita mau berkirim surat kepadaNya.

Syariat itu seperti amplop dan segala uba-rampenya.

Kalau pingin surat kita sampai ke alamat tujuan, maka beberapa hal teknis harus kita penuhi.

Alamat tujuan harus ditulis jelas, kalau tidak dipastikan bakal nyasar entah ke mana.

Apalagi kalau nekat ndak nulis alamat sama sekali. Belum sempat dikirim juga sudah masuk tempat sampah di kantor pos.

Perangko. Jangan lupa menempelkan perangko, harganya juga harus sesuai dengan alamat tujuan dan seberapa cepat kita ingin surat kita sampai.

Jangan sekali-kali memberanikan diri mengirim surat tanpa perangko. Buang-buang waktu saja. Waktu kita, waktunya pak pos.

Peraturan tentang amplop sudah ditetapkan dan harus dipatuhi kalau memang kita ingin berkirim surat

Hakikat adalah isi suratnya.

Yang dibuka sesudah amplopnya sampai ke tangan-Nya.

Yang akan dibaca-Nya

Yang kita persembahkan , kita rengek-rengekkan, kita harap-harap-cemaskan.

Masih berpikir untuk mengirim surat dengan amplop yang lengkap tapi tanpa isi surat ?

Bagaimana kira-kira kalau isi suratnya ternyata bukan untuk Dia ?

Atau kira-kira bagaimana kalau isinya tidak lebih dari carut-marut pelecehan kita atas cinta-Nya?

:)

Mutually Exclusive

Sunday, December 3rd, 2006

Terlalu sering saya dengar kata-kata berbahasa asing yang membuat repot kita kalau harus menerjemahkannya. Seperti kata di atas, misalnya. Entah karena keterbatasan wawasan kebahasaindonesiaan saya atau memang benar-benar belum ada, sampai sekarang saya masih tidak bisa menyatakannya dalam kata sifat dari bahasa Indonesia.

Apa itu mutually exclusive ?

Dua kejadian (A dan B) yang berhubungan dengan sifat seperti ini, kalau kejadiannya A, maka pasti bukan B. Kalau kejadiannya B pasti A tidak ada. Kalau B “iya” maka A pasti “ndak”, dan sebaliknya.

Contoh sederhana, A adalah “Jam sepuluh hari ini cuaca cerah”. B adalah “Jam sepuluh hari ini hujan deras”. Maka kalau A, pasti B tidak, dan kalau ternyata yang ada adalah B, maka pasti A tidak terjadi.

Belum selesai masalah saya dengan terjemahan bahasa Indonesia, datanglah seorang penggemar diskusi ke hadapan saya. Sebut saja namanya Togog (hehehehe….). Sialnya hari ini dia sedang berada di puncak semangat untuk memikirkan konsep-konsep abstrak njelimet yang terpaksa harus saya layani. Soalnya kalau tidak, Togog ini suka mencari pelampiasan yang tidak-tidak. Tiba-tiba ngarang cerpen, misalnya…..

Maka dihamburkannya segala pengertian, konsep dan pemahamannya tentang  “predestined” versus “freewill”. Tanpa ba-bi-bu, meluncur semua pengertiannya tentang predestined. Semua pemahaman tentang freewill juga muntah begitu saja, entah didapatnya dari mana itu semua. Internet, buku referensi, kitab primbon, kandha jare dan segala wangsit serta wisik dipakainya. Ujung-ujungnya saya ditodong, segala drama di alam semesta  itu “predestined” atau “freewill” ? Apa bener semua kejadian itu sudah ditakdirkan tanpa manusia bisa mengubahnya ? Atau kejadian-kejadian di dunia ini masih bergantung ke tingkah polah manusia sendiri?

Maka komplit sudah penderitaan saya, dari awal mutually exclusive belum terpecahkan. Sekarang saya digiring ke jebakan pikiran saya sendiri untuk mencari padanan “predestined” dan “freewill”. Diamput bener si Togog ini !

Eits…. Saya kok jadi mendapat senjata buat menghadapi pokal si Togog ini. Maka,

“Gog, sepertinya kok kamu bener-bener memandang bahwa predestined dan freewill itu adalah dua hal yang mutually exclusive ya”

Ha ! Kena dia !

“Jadi menurut kamu kalau suatu kejadian itu berasal dari kehendak Tuhan, dari takdir, maka kehendak manusia sama sekali tidak eksis di situ ?”

Togog masih melongo….

“Atau kalau semua kejadian ini hasil kehendak dan usaha manusia berarti itu steril dari campur tangan Tuhan, begitu ?“

Tambah melongo dia…….hahahaha !

Smg, 1 Des 2006