Archive for February, 2006

Nasihat Bapak Tua

Wednesday, February 1st, 2006

Seorang bapak tua dalam sebuah pertemuan mengingatkan saya akan dua hal yang memberi sumbangan kekacauan perikehidupan bersama yang kita lakoni sekarang ini.

Bapak ini kurus, sudah cukup banyak mejalani hidup, matanya bersinar tajam. Suaranya berat dan lantang. Tegas. Sekilas mengingatkan saya ke pak Timan…..  Cuman badannya lebih tegap.

Banyak dari kita yang "terlalu sadar" akan perbuatan-perbuatan baik yang sudah kita lakukan.

Banyak dari kita yang "kurang sadar" atas kesalahan-kesalahan yang sudah kita perbuat.

Tidak seimbang. Yin-yang -nya tidak utuh.

Kesadaran untuk berbuat baik yang muncul saat kita memutuskan untuk bertindak, kadang-kadang sangat melenakan sehingga sampai perlu dipelihara jauuuuuuh setelah perbuatannya selesai. Saya sudah berbuat baik. Saya sudah bersedekah. Saya sudah membantu korban banjir. saya sudah membagi ilmu ke orang lain. Saya sudah memegang erat norma sopan santun. Saya sudah berhasil menjadi hambaNya yang mulia…….terus….terus…dan teruuuussss….. Padahal itu sudah minggu lalu….

Dalam level pribadi, ini bisa memupuk bibit kesombongan dan merendahkan orang lain. Takabur dan merasa lebih tinggi mudah sekali tumbuh menjadi makin parah. Pada level yang sangat kronis dan parah bahkan bisa mendorong orang untuk "memerangi" orang yang dianggapnya tidak berbuat baik sepertinya.  Penyakit ini kalau diidap sekelompok orang , akibatnya bisa sangat merusak. Fanatik, ngamukan, sama sekali tidak toleran.

Penyakit seperti ini biasanya diiringi dengan serangan "lupa" bahwa kita sudah — dan mungkin masih bergelimang kesalahan dan dosa. Menyadari bahwa kita sudah berlaku salah saja bukan hal yang mudah, apalagi belajar dan berendah hati karenanya. Lupa untuk merenung, introspeksi dan berendah hati. Kalau sudah pada tahap parah, bahkan cenderung menganut paham "tujuan menghalalkan cara". Padahal sudah ada kisah bahwa orang yang mati pada saat berperang di jalan Tuhannya bisa tergelincir ke neraka ,  gara-gara dia merampas / mencuri harta musuhnya dengan cara yang batil.

Setan penggoda tidak akan lari ketakutan kalau berhadapan dengan ulama, haji 13 kali, kiai, pendeta, mursyid, mujahid, crusader, evangelis, "titisan jibril"….. apalagi sama dhemit :)

Malah makin getol dan makin canggih metodenya. Kalau bujukan berbuat dosa sudah tidak mempan, bahkan bisa lewat bisikan bersuka hati dan terlena akan perbuatan sucinya.

3 Muharam 1427